PESAN KEHIDUPAN DARI ALTAR PANGGILAN
実写化Vik.Pdt.AdiPutraSinagaVik.Pdt.AigrenAndelensonSihalohoVik.Pdt.AlwiJauhariLinggaVik.Pdt.AndriVincentSinagaVik.Pdt.ChristiNopitaPurbaVik.Pdt.DanMarthinYogaSaragihVik.Pdt.DenadaAfnesiaSipayungVik.Pdt.ElisabetLusitaniaSaragihVik.Pdt.EvaenaFebrieniSumbayakVik.Pdt.FebrinaLaurancePurbaVik.Pdt.HildaOctariSinagaVik.Pdt.KikiRiskyaniGirsangVik.Pdt.ResnitaTiurlinaPurbaVik.Pdt.SariahniSaragihVik.Pdt.VeronikaPurbaVik.Pdt.YudiKristiantoSaragih
あらすじ
Altar Panggilan adalah sebuah konsep Kekristenan yang merujuk pada undangan publik untuk menyerahkan diri dan bertobat untuk memperbaharui komitmen iman kepada Tuhan di tempat ibadah. Pesan kehidupan utama dari altar panggilan berpusat pada penyerahan diri secara total dan dimaknai sebagai titik balik penting dalam kehidupan spiritual seseorang. Pesan kehidupan utama yang dapat diambil dari konsep altar panggilan meliputi antara lain pentingnya pengabdian total dimana altar melambangkan tempat pengorbanan dan penyerahan diri. Kemudian pengakuan iman secara terbuka, sebab altar panggilan menyediakan wadah publik bagi individu untuk menyatakan iman atau keputusan rohani mereka secara terbuka yang membutuhkan keberanian dan keyakinan menyaksikan iman dihadapan orang lain. Selain itu hal ini juga meliputi titik balik dan komitmen hidup baru, maju ke depan menuju altar menunjukkan perpisahan yang tegas antara masa lalu dan komitmen terhadap cara hidup yang baru yang dipandu oleh prinsip spiritual keterpanggilan. Kemudian pesan itu juga meliputi tanggapan terhadap panggilan Ilahi, dimana panggilan hidup itu bukan sekedar hasil dari apa yang dicari semata melainkan respon terhadap undangan atau rancangan yang telah dipersiapkan oleh Tuhan. Lantas dengan demikian pesan itu selanjutnya mengarah pada pertemuan dengan Tuhan, untuk mengalami transformasi spiritual seseorang harus aktif mendekat dan mencari perjumpaan dengan Yang Ilahi. Tentulah respon terhadap Pesan Kehidupan ini diambil dengan keputusan atas kesadaran penuh bahwa iman adalah pilihan aktif, bukan sekedar warisan pasif dimana akhirnya hal ini haruslah tentang transformasi pribadi melalui penyerahan diri yang disengaja, komitmen publik, dan respon aktif terhadap panggilan spiritual untuk menjalani kehidupan yang lebih terarah dan bermakna. Sebagai Pimpinan Sinode GKPS, kami memaknai buku refleksi ini sebagai tanda zaman baru - generasi pelayan yang tidak hanya cakap dalam teologi, tetapi juga berani tampil apa adanya, mengakui kelemahan, dan bersaksi bahwa Allah bekerja justru melalui keterbatasan manusia. Buku ini dapat menjadi bagian dari refleksi tentang menjalani panggilan pelayanan. (Pdt. John Christian Saragih, STh, MSc (Ephorus) & Pdt. Janhotner Saragih (Sekretaris Jenderal). Pimpinan Sinode GKPS) Para vikar pendeta 2025 telah memberikan warisan yang berharga bagi gereja dan bagi siapa saja yang membaca buku ini. Telah dibina kesehatan mental fisik dan disiplin semi militer bersama departemen pembinaan GKPS, tentulah memiliki, membekali dan meningkatkan percaya diri untuk selalu sigap dalam melayani. (St. DR. JR. Saragih, SH, MM. Pemerhati GKPS, Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Dalam Negeri) Keberhasilan, seperti yang tersirat dalam refleksi ini, bukanlah hasil instan atau pencapaian lahiriah semata, melainkan buah dari konsistensi, ketaatan, disiplin harian, dan penyerahan diri total kepada kehendak Tuhan. (St. Jonrismantuah damanik, SH, MSi. ASB GKPS Resort Sion Siantar, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumbaer Daya Manusia, Kab. Simalungun)