あらすじ
Tiba-tiba lampu padam. Di dalam rumah tampak gelap gulita. Kak Sarah mengintip ke jendela, ternyata bukan hanya rumah Nenek yang lampunya mati. Namun, semuanya padam. Teror, lampu mati. Lengkap sudah kini penderitaan kami. Dug! Dug! Dug! "Siapa yang malam-malam dan mati lampu begini main bola, sih? Kurang kerjaan banget, sudah begitu hujan deras lagi. Gila apa, ya, tuh, orang!" maki Hanif. "Entah, coba lu tengok, Nif!" ucap Melly sambil menyinari ruangan dengan lampu ponselnya. "Ayo, temani gue!" Hanif mengajak Ridwan keluar. "Elah ... begitu aja minta ditemani. Payah lu, ah!" Ridwan dan Hanif memegang gagang pintu dan menekannya. Duar! Gelegar suara petir serta kilatannya mengagetkan kami. Ditambah sinar dari kilatan petir tadi menyoroti sosok tanpa kepala yang sudah berdiri tepat di depan pintu. Sejak kejadian itu teror demi teror terus mereka alami. Bahkan sebelum mereka datang, teror itu telah memakan korban. Beberapa warga desa meninggal dengan cara tidak wajar. Teror apakah yang sedang terjadi di desa tersebut? Mampukan Melly dan teman-temannya mengungkap misteri itu? Siapakah pelaku teror sebenarnya?
