Buku "Panji, Pawang Kancil dan Opini Lainnya" menghadirkan dua kumpulan esai yang padat; bagian pertama mengisahkan pengalaman faktual Panji, penjaga kancil di Gembiraloka yang mengungkap sifat asli satwa mitos itu sebagai hewan pemalu dan mudah stres, sementara bagian kedua berisi renungan satiris dan analitis tentang politik, kebohongan, serta kompleksitas relasi seni dan kekuasaan di Indonesia, termasuk peran seni sebagai alat propaganda pada masa pendudukan Jepang, yang ditulis dengan gaya jurnalistik dan sastrawi yang mendalam.