あらすじ
Kisah Seribu Satu Malam merupakan kisah yang tak lekang oleh zaman. Bisa dibilang, buku ini dituturkan se- cara mutawatir dengan mengambil latar zaman keemasan dunia Islam di era Khalifah Harun ar-Rasyid dan Khalifah al-Ma’mun. Meskipun terdapat berbagai versi dari kisah ini, tetapi secara garis besar Kisah Seribu Satu Malam memiliki kesamaan. Perbedaan biasanya terletak pada urutan kisah dan cara penyajiannya. Ada yang berupa narasi, diceritakan dengan penggalan malam demi malam. Ada juga yang menyajikannya berdasarkan tema atau penggalan-penggalan kisah tanpa memedulikan pemenggalan malam demi malam. Cara penyajian ini yang lebih pas karena pembaca tidak akan disibukkan dengan berantainya malam yang menyebabkan cerita yang panjang menjadi terpotong-potong. Secara sekilas, mungkin yang tertulis di dalamnya hanya dongeng atau mitos belaka. Namun, jika diselisik lebih dalam, ternyata di dalamnya banyak mengandung fakta. Artinya, kisah yang dituangkan di dalamnya benar- benar pernah terjadi, terbukti dengan adanya perintah dari Khalifah untuk mendokumentasikannya. Ini sekaligus memberi gambaran betapa umat Islam di zaman dahulu pernah mencapai era kegemilangan dan kemakmuran. Penyajian edisi berbahasa Indonesia ini sedikit berbeda dengan naskah asli yang berbahasa Inggris. Dalam buku aslinya, teks dialog disajikan dalam paragraf yang panjang sehingga cenderung membosankan dan melelahkan bagi para pembaca. Untuk itu, penerbit berinisiatif menyajikannya dalam bentuk dialog sebagaimana penyajian dalam bentuk novel. Dengan harapan, kisah yang tertuang di dalamnya bisa mengalir tanpa diribetkan banyaknya kutipan dalam satu paragraf. Dalam proses penerjemahan juga dilakukan beberapa adaptasi transliterasi yang biasa digunakan di Indonesia karena lidah orang Indonesia dan orang Barat tentu saja berbeda. Misalnya, penulisan Syamsudin dan Syahzaman dengan huruf syin menggunakan sy bukan sh karena sh cenderung dipakai untuk huruf shad. Demikian pula dengan nama atau tokoh dalam buku ini. Ada beberapa nama yang diadaptasi untuk memu- dahkan ejaan dan pengucapan lidah orang Indonesia. Misalnya, dalam teks asli yang berbahasa Inggris tertulis Nur ad-Din Ali dan Badr ad-Din Hasan. Ini akan menyulitkan pembaca mengucapkannya sehingga diganti dengan ejaan yang lebih sederhana, Nurudin Ali dan Badrudin Hasan. Dengan demikian, semoga pembaca bisa lebih menikmati kisah-kisah lucu, unik, konyol, kisah cinta yang mengharu biru dan terkadang menegangkan, serta Anda akan dimanjakan dengan syair-syair romantis dan menya- yat jiwa yang tersaji dalam Kisah Seribu Satu Malam ini.

