Di negeri yang jalan-jalannya dibangun dari keringat bangsa lain, kita dipaksa bertanya: benarkah kita telah merdeka? Lebih dari delapan dekade Indonesia berdiri, tetapi aspal untuk melapisi tanahnya sendiri justru terus diimpor. Ini bukan hanya soal kebijakan teknis, ini adalah pengkhianatan terhadap mimpi kolektif bangsa: mimpi untuk berdiri kokoh di atas sumber daya sendiri, di atas aspal sendiri. Buku ini adalah gugatan, sekaligus seruan: Indonesia tidak akan benar-benar berdaulat jika tidak berani menambal lubang ketergantungan dengan kekayaan dari tanahnya sendiri.