あらすじ
”L’amor che move il sole e l’altre stelle” kata Dante, sastrawan Italia. Cinta adalah kekuatan dahsyat yang dapat mengubah segalanya. Cinta juga daya kreatif yang sangat hebat yang mendorong dan mengilhami para pencipta melahirkan karya- karya momental dan legendaris. Semua karya cipta yang dilahirkan karena kekuatan cinta akan memancarkan kekuatan yang memikat dan memesonakan. Apakah itu lukisan, lagu, patung, novel, puisi, dan lainnya. Karya yang lahir dari kekuatan cinta juga akan menembus batasan waktu. Karena cinta adalah keabadian. Cinta lahir sebagai anugerah dari Dia Yang Memiliki Cinta. Cinta diembuskan ke dalam napas makhluk terbaiknya agar tercipta kehidupan, keharmonisan, dan keindahan. Tuhansebagaipemilikcintatelahbersumpah kepada diri-Nya akan selalu menganugerahkan cinta-Nya yang tanpa batas. Dia tidak pernah melihat ciptaan-Nya dengan mata pilih kasih dan berpihak. Dia memiliki mata yang tajam setajam matahari. Matanya menembus ke dalam hati semua ciptaan-Nya. Mereka yang hatinya dipenuhi dengan cinta akan menjadi dekat dan tenteram hatinya. Mereka akan melihat kehadiran-Nya di mana- mana. Pada sekuntum mawar yang merah merekah, pada langit biru yang bersih dan lembut, pada warna-warni pelangi yang me- mesona, dan juga pada tsunami yang terlihat garang. Semuanya didorong oleh hasrat cinta- Nya yang tanpa batas kepada ciptaan-Nya. Mata mereka yang dipenuhi dengan cinta tidak akan melihat cela dan kekurangan dalam ciptaan-Nya. Semua tampak begitu indah dan menakjubkan seperti diri-Nya. Dialah keber- adaan yang dipenuhi dengan cinta sebagai tremendum facinant; sebagai keberadaan yang menggetarkan dan menakjubkan. Cinta-Nya bukan Cinta Biasa mengingatkan saya pada kisah pengalaman pribadi teman dekat saya, Singgih Agung namanya. Dia seorang editor senior yang suatu kali diajak tur ke Eropa oleh perusahaan tempat dia bekerja. Dia singgah mengunjungi negerinya Dante, Italia, yang menawan. Dia bersama teman- temannya yang juga staf senior di perusahaan berziarah ke Gereja St. Peter’s Basilica di Vatican. Dia dicekam takjub saat berdiri di depan gereja yang berarsitektur Renaissance dan Baroque, karya arsitek Michelangelo itu. Hatinya tiba-tiba diguncang kedahsyatan dan juga kegalauan. Dia menyaksikan ribuan orang tumpah dalam kekhusyukan dan ketundukan saatmelakukanmisa. Puji-pujianmenggemuruh memenuhi ruangan. Dia yang Muslim itu bertanya kepada dirinya: ”Mungkinkah mereka semua akan dimasukkan ke dalam api yang membara?” Selanjutnya dia gundah. Cinta-Nya bukan cinta biasa. Cintanya hanya mengerti ”memberi” dan tak pernah berharap mendapatkan imbalan apa pun. Semuanya mendapatkan cinta-Nya; apakah mereka yang di mata manusia merasa dirinya sok bersih dan beriman adalah orang-orang sesat dan kafir. Mereka terus mendapatkan limpahan cinta-Nya. Kesesatan dan kekafiran bukan urusan dan ukuran-Nya. Dia telah memberikan kepada semua manusia kebebasan untuk mengembangkan dirinya agar mencapai kesempurnaan. Manusia diberikan cinta agar tergerak dan bergegas mengejar kesempurnaan. Cinta adalah kekuatan yang menggerakkan jiwa-jiwa manusia untuk bergerak mengejar kesempurnaan. Seperti cahaya matahari, cinta memantik kelopak-kelopak menggeliat dan merekah. Kelopak-kelopak itu kemudian tampak begitu indah dan menakjubkan. Begitulah kekuatan cinta yang menyentuh dan menggerakkan. Jiwa-jiwa manusia beragama haruslah dapat mencontoh dan belajar dari alam dan sekitarnya. Mereka yang beragama hendaknya jiwanya dapat menyerupai seperti kelopak- kelopak mawar itu karena agama datang dari Dia Yang Memiliki Cinta. Dengan beragama, orang seharusnya dapat menjadi lebih menarik dan menakjubkan, bukan sebaliknya; atas nama agama dan Tuhan, orang beragama malah menjadi keras dan tak punya kasih. Perbedaan menjadi cela yang harus dihilangkan dan dimusnahkan. Dia Yang Memiliki Cinta telah menciptakan segalanya berbeda-beda. Warna mawar yang berbeda, warna tulip yang berbeda, warna anggrek yang berbeda. Tapi semuanya tampak begitu indah. Semua memberikan kepada dunia keindahan dan pesona. Tak satu pun dari warna yang berbeda-beda itu membuat dunia menjadi suram dan kelabu. Bisakah manusia mencontoh diri-Nya? Bukankah manusia adalah makhluk terbaik- Nya? Bukankah Dia telah menciptakan manusia dalam rupa diri-Nya? Buku Bukan Cinta Biasa adalah anugerah terindah yang saya dapatkan dari kehidupan saya. Puisi dan cerita pendek Jalaludin Rumi telah banyak menggugah jiwa saya. Puisi dan cerita pendek itu juga telah menjadi sumber kekuatan yang menggerakkan. Sudah 5 tahun saya menulis dan menulis untuk melawan kekerasan yang dilakukan atas nama agama dan Tuhan. Tepatnya pada tahun 2005. Saya benar-benar telah di-”jarah” atas nama agama dan Tuhan. Dan kata penjarahan itu dinyatakan dengan tegas dan jelas-jelas di rumah seorang pengacara Muslim di kawasan elite di Jalan Pajajaran, Bogor. Uniknya, peristiwa itu terjadi justru di bulan Ramadan. Bulan suci yang mestinya seorang Muslim, apalagi seorang ”kiai”, (?) harus memaki seseorang. Padahal saya ini sudah dijarah hak dan piutang saya sebagai pekerja yang sudah bekerja 15 tahun lebih. ”Kalau tidak saya pecat dan usir, saya ini yang harus bertanggung jawab kepada agama dan Tuhan!” teriak kiai itu dengan suara menggelar. Sebuah kalimat yang terus menggema dan menembus batasan waktu hingga hari ini. Sudah 5 tahun berlalu sejak kejadian itu, 2005, tapi suara yang diucapkan dengan keras dan lantang itu terus menggema. Saya bersyukur telah didampingi dan dibantu Pak Ruhut Sitompul, SH, yang begitu peduli dengan nasib guru. Saya juga sangat berutang atas kebaikan Pak Marianus, SH dan Martogi Naibaho, SH, yang telah memperlaku- kan saya sebagai seorang saudara, bukan klien. Pelukan hangat dan mesra, juga motivasinya, di tengah gerimis hujan menjelang perpisahan di tol masuk Bogor membuat saya selalu terkenang. Akhirnya, apa pun, saya merasakan begitu bahagia dengan semua yang telah diberikan oleh Dia Yang Punya Cinta karena hidup selalu ada sisi-sisi lain yang lebih indah. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Komaria, Winda Eka Putri, dan Darient Sulaiman yang telah membagi cintanya yang menggetarkan ketika saya harus menapaki spiral hidup menurun. Cintanya menebar harapan dan meneguhkan keyakinan. Karenanya saya bisa tegar dan menaiki spiral menaik. Cintanya selalu hadir menemani saya dengan segenap cinta dan kasihnya yang menggerakkan. Saya telah dianugerahi cinta yang begitu berharga dan indah sehingga saya bisa menulis banyak buku atas inspirasi dan kekuatan cintanya. Saya juga telah dapat melihat ke- hidupan dalam rupa yang lebih memesona dan menggairahkan. Saya juga ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada orang-orang yang telah memberi saya kekuatan dan dorongan: Dr. Komaruddin Hidayat dan Dr. Haidar Bagir, dosen saya yang banyak menginspirasi menulis, A. Fuadi, sang penulis Negeri 5 Menara, Agus Maulana, alumnus Filsafat UGM, Hery Azwan, alumnus Filsafat UIN, Jakarta, Hawasi MA, dosen Filsafat Guna Darma, Beny Baskoro, doktor Filsafat alumnus UGM, Rochimah Imawati MA, dosen Psikologi Universitas Al Azhar, Methya Rosa MA, dosen Psikologi Universitas Al Azhar, Sunandar Ibnu MA. Dosen Fakultas Dakwah UIN, Jakarta, Moh. Bagir MA. Dosen IT, Universitas Indonesia, Hady sang perintis sekolah Gratis Cendekia, Wahfiduddin Sakam MBA, Hilal Syamsi, Taufiq Passe, Budi Firmansah, Imam Ratrioso, Dedy Chumedy, dan lainnya. Salam Cinta saya, Tasirun Sulaiman