あらすじ
Awal dari cinta semestinya melihat. Ketertarikan sebagai titik tolak cinta mengandaikan melihat keindahan. Ternyata, ungkapannya bukan cinta itu melihat, melainkan cinta itu buta. Lebih tajam lagi dikatakan, cinta teramat buta (Love is so blind). Hanya orang yang jatuh cinta akan mengalami “cinta itu buta”. Cinta buta terjadi dalam pengalaman jatuh cinta antara laki-laki dan perempuan. Cinta buta adalah jenis cinta eros; kegairahan cinta antara laki-laki dan perempuan. Kegairahan itu begitu hebat sampai membutakan orang yang jatuh cinta. Dalam pengalaman kegairahan rasa tertarik yang begitu hebat, perasaan orang jatuh membara untuk selalu bersama. Rasa membara jatuh cinta menguasai seluruh keberadaan orang jatuh cinta. Dengan rasa membaranya, orang jatuh cinta membutakan pikiran. Pikiran orang jatuh cinta tidak mampu berpikir objektif. Bahkan rasa membara jatuh cinta menggerakkan kehendaknya berdasarkan pikiran yang tidak masuk akal lagi. Apa pun akan diterjang oleh orang jatuh cinta. “Tujuh lautan akan kuseberangi, tujuh gunung akan kudaki”. Inilah cinta buta yang membawa kepada kegilaan. Mau tidak mau, cinta yang buta buat gila. Dalam kebutaan cintanya, orang bisa membabi buta. Apa saja dalam kehidupan bisa dilibas karena alasan cinta. Jatuh cinta sungguh-sungguh menjatuhkan akal sehat yang merupakan ukuran hidup manusia. Katanya: “Orang-orang ‘dengan kaki di bumi’ mengatakan bahwa cinta adalah sebuah kegilaan. Dalam kenyataannya, apa yang terjadi adalah bahwa fantasi mengelabui dengan imajinasi-imajinasi yang sangat menggairahkan; fantasi dapat mendekatkan kita kepada kebahagiaan, tetapi akhirnya dibawa kembali kepada kenyataan hidup” (Stendal tentang L’amore).